Showing posts with label Childcare. Show all posts
Showing posts with label Childcare. Show all posts

Anak-Anak Saat Ini Semakin Materialistis

Fenomena gangguan mental anak-anak karena materialisme semakin tampak sangat parah di beberapa negara. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 89 persen orang dewasa setuju bahwa anak-anak saat ini semakin menjadi materialistis dibandingkan 15 tahun lalu.

Jangan biarkan anak Anda menjadi materialistis. Karena dengan memenuhi semua keinginan mereka, menjadikan diri Anda sebagai investor kerusakan mental mereka.

Dengan berkembangnya dunia industri dan teknologi, maka semakin banyak manusia di bumi berorientasi pada benda. Semakin banyak orang yang bekerja tidak lagi bertujuan untuk hidup lebih baik di masa datang, tetapi lebih mengejar "apa yang mereka inginkan saat ini". Kecenderungan ini diakui oleh para ahli dengan motivasi seseorang mengumpulkan harta, sehingga perilaku ini menjadi panutan anak-anak mereka.

Harta bukanlah segalanya. Namun sayangnya, karena semua materialisme kehidupan modern itu, anak-anak menjadi rusak mental. Kecintaan mereka kepada anak dibuktikan dengan pemberian barang yang kadang-kadang belum seharusnya mereka miliki; seperti rumah, mobil, perangkat elektronik, bahkan gadget mutakhir. Karena itu tak jarang membuat utang orang tua bertumpuk di sana-sini hanya untuk memenuhi keinginan mereka. Padahal, cinta tidak selalu ditampilkan dalam bentuk seperti itu!.

Temuan ini didasarkan pada survei yang melibatkan 1.225 responden dewasa di Inggris. Dari temuan jajak pendapat ini, sebagian besar orang dewasa Inggris percaya bahwa anak-anak generasi sekarang lebih materialistis daripada sebelumnya. Polling ini termasuk bertanya tentang berbagai tuntutan anak-anak kepada orang tua mereka.

Lembaga masyarakat anak di sana mengatakan bahwa orang dewasa sangat berperan sehingga tumbuhnya pemasaran tingkat tinggi terhadap produk komersial pada anak-anak. Padahal, sebenarnya anak-anak harus dibiarkan tumbuh dan berkembang bebas dari berbagai macam teknik pemasaran produk industri. Memang kita tidak bisa menyalahkan anak-anak. Mereka adalah sebagai objek penerima hingga budaya materialistik tercipta pada mereka. Inilah yang ditangkap oleh dunia industri, dimana pangsa pasar anak-anak di Inggris diperkirakan mencapai sebesar 30 miliar pound.

Memang tidak mungkin untuk menyembunyikan anak-anak dari dunia nyata saat ini. Masuknya informasi teknologi yang beragam memang dapat diperoleh bebas oleh anak-anak. Namun, bukan berarti mereka tidak dapat dilindungi dari itu.

Untuk membendung itu -menurut saya, semua orang dewasa dari semua komponen harus bersama-sama bertanggung jawab bahwa anak jangan dieksploitasi untuk cinta materi. Orang tua harus lebih tegas menolak semua permintaan konyol anak-anaknya terhadap suatu item dengan harga yang sangat tinggi.

Anak-anak harus didorong dan diberi pemahaman bahwa harga diri mereka lebih penting dari sekedar barang-barang yang mereka miliki. Karena, seringkali anak-anak menginginkan sesuatu karena mereka melihat iklan di TV, atau melihat teman-temannya sudah memilikinya.

Orang tua yang tidak memahami ini, maka sama saja menjual gaya hidup pada anak-anak mereka untuk menghasilkan budaya materialisme, persaingan dan membuat mereka menjadi sangat individualis, dan nantinya menjadi serakah ketika memasuki kehidupan pergaulan di saat mereka dewasa.

Intinya tekanan produk komersial terhadap anak-anak memberikan efek merusak bagi mental mereka. Profesor psikologi anak dari Institut Kesehatan Anak di London, Philip Graham menyatakan, salah satu faktor utama penyebab munculnya masalah mental pada anak-anak dan remaja adalah gengsi yang berlebihan. Baik gengsi anak-anak itu sendiri, maupun gengsi orang tuanya. Fenomena baru saat ini, banyak orang tua yang tidak sudi disaingi oleh anak orang lain...

Tapi tanpa disadari, hal inilah yang menyebabkan hidup menjadi tidak sehat. Sudah terbukti di beberapa kawasan, seperti Asia, Inggris dan Amerika Serikat, dimana akibat tekanan produk komersial menyebabkan meningkatnya jumlah masalah kesehatan mental pada anak. Hasil survei di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa hampir 90 persen responden berpikir bahwa iklan saat Natal menekan orangtua menghabiskan uang lebih dari kemampuan mereka yang sebenarnya hanya untuk sekedar memenuhi keinginan anak. Sebanyak 63 persen responden wanita dalam survei ini lebih cenderung berpikir bahwa media merupakan penyebab utama munculnya budaya materialisme pada anak-anak. Sementara itu, hanya 56 persen responden pria yang setuju dengan pernyataan itu. [ed]

10 Jenis Terapi Autisme

Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara, obat, suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi, radio, atau tulisan-tulisan.

Para orang tua harus berhati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Masih banyak yang terkecoh, dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.

Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para profesional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan. Sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.

Beberapa terapi yang sering digunakan:
  1. Applied Behavioral Analysis (ABA) ABA
    adalah jenis terapi yang telah lama dipakai. Terapi ini telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia. 
  2. Terapi Wicara Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong. 
  3. Terapi Okupasi
    Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar. 
  4. Terapi Fisik
    Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. 
  5. Terapi Sosial
    Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul bersama teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya. 
  6. Terapi Bermain
    Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. 
  7. Terapi Perilaku Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
  8. Terapi Perkembangan
    Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik. 
  9. Terapi Visual
    Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar.
  10. Terapi Biomedik
    Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, seperti pemeriksaan darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Ternyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Sumber dan informasi lain dapat Anda temukan di:
Baca juga artikel lain:

Pree School Bisa Sebabkan Anak Mengidap Autis ?

Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella ) bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, hanya imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.

Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme pada anak: 

  1. Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang. 
  2. Televisi dan Video Games: Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak dan orang tua semakin berkurang karena berbagai hal. Sebagai kompensasinya, seringkali TV dan video games digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa hal ini bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang jarang bersosialisasi karenanya. Dampak TV dan video games tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata adalah kasus pada negara terpencil Bhutan – begitu mereka mengizinkan TV di negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis. Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih polos. Mereka menjadi hiperaktif, ilusinasi, herosinasi (merasa menjadi jagoan atau hero), dan Autisme. Sebuah penelitian akhirnya kini telah mengakui kemungkinan tersebut. 
  3. Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya. Namun tidak itu saja, juga ada kemungkinan variasi-variasi lainnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lanjut memiliki kans lebih besar untuk menderita autisme. (walaupun sang ayah normal / bukan autis) 
  4. Makanan : Pada tahun 1970-an, Dr. Feingold dan kolega-koleganya menyaksikan peningkatan kasus ADHD dalam skala yang sangat besar. Sebagai seseorang yang pernah hidup di era 20 / 30-an, dia masih ingat bagaimana ADHD nyaris tidak ada sama sekali di zaman tersebut.Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun 1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation, dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba diasingkan oleh AMA, dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana. Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern. 
  5. Radiasi pada janin bayi : Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi kidal. Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG – hindari jika tidak perlu. 
  6. Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini, yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic acid – namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).Atau yang lebih baik – perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid, karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping :Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects 
  7. Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre school) dapat memicu reaksi autisme. Diperkirakan, bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri. Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan bahagia. 
Artikel ini bertujuan untuk Anda dapat berhati-hati, bahwa autisme dapat disebabkan perilaku kita sendiri; yaitu perilaku kedewasaan kita sebagai orang tua. Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang akan ditemukan di masa depan sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di bidang ini. Semoga bermanfaat...

Sumber: Wikipedia dan berbagai sumber.

Mendeteksi Sejak Dini Apakah Balita Anda Penyandang Autis

Suatu ketika seorang tetangga memberi komentar saat melihat bayi rekan tetangganya yang berumur 3 bulan; "Ya, ampun senangnya punya bayi. Baik banget. Jarang menangis ya. Cuma senyum-senyum saja.." katanya sambil mencubit halus pipi sang bayi. Ibu si bayi tersenyum girang karena anaknya dipuji.

Dalam kondisi lain, ada seseorang yang memberi komentar tentang kondisi bayi rekannya; "Sungguh heran ya, sudah 16 bulan tapi kenapa saya belum pernah mendengar bayi si Pulin itu berceloteh. Biasanya seusia itu sudah bisa memanggil.. pppaaappaaa...mmmaaammmaaaa...".

Kedua fragmen diatas adalah secuil kecil dari yang sering kita temukan pada seorang bayi. Pada awalnya 'kebaikan' sang bayi yang tidak rewel, tidak pernah menangis, dan hal-hal pasif  darinya dianggap biasa. Ini akan menjadi kekhawatiran apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Apakah ini suatu kondisi yang normal ?.

Umumnya, orang senang mendengar bayi berceloteh. Bahkan sejak usia dini antara 1 - 3 bulan, bayi sudah mulai diajak berinteraksi oleh kedua orang tuanya. Interaksi seorang bayi adalah dengan menangis, tersenyum, menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, interaksi mata, dan lain-lain. Saat tertentu juga bisa terkejut karena ada suara yang keras seperti teriakan atau petir, misalnya. Kondisi-kondisi normal dari seorang bayi adalah interaksinya.

Sering timbul kekuatiran jika bayi kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim, apakah ini yang disebut anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan, angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi serta bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah, atau bahkan terjadi overdiagnosis . hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak. Itulah sebabnya Anda harus mengetahui bagaimana mendeteksi sejak dini apakah anak Anda mengidap autisme.

Apa itu Autisme ?

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.

Bagaimana Mendeteksi Autisme Sejak Dini ?

Meskipun sulit, namun tanda dan gejala autisme sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak anak sebelum berusia 6 bulan. Sampai sejauh ini, bahkan dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi risiko autisme sejak dalam kandungan. Memang terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autisme, tetapi pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian saja.

Kesimpulan yang umum, deteksi autisme sejak janin belum dapat dilakukan. Sehingga dunia kedokteran baru mampu melakukannya sejak bayi dilahirkan. Meskipun diakui agak sulit melakukan diagnosis, tetapi amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupakan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikannya apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda.

Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia :

Usia 0 - 6 Bulan
  • Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) 
  • Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik 
  • Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi 
  • Tidak “babbling” 
  • Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu 
  • Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan 
  • Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal 
Usia 6 - 12 Bulan
  • Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) 
  • Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik 
  • Gerakan tangan dan kaki berlebihan 
  • Sulit bila digendong Tidak “babbling” 
  • Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan 
  • Tidak ditemukan senyum sosial 
  • Tidak ada kontak mata 
  • Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal 
Usia 1 - 2 Tahun
  • Kaku bila digendong 
  • Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da) 
  • Tidak mengeluarkan kata 
  • Tidak tertarik pada boneka 
  • Memperhatikan tangannya sendiri 
  • Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus 
  • Mungkin tidak dapat menerima makanan cair 
Usia 2 - 3 Tahun
  • Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain 
  • Melihat orang sebagai “benda” 
  • Kontak mata terbatas 
  • Tertarik pada benda tertentu 
  • Kaku bila digendong
Usia 4 - 5 Tahun
  • Sering didapatkan ekolalia (membeo) 
  • Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) 
  • Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah 
  • Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) 
  • Temperamen tantrum atau agresif 
Pada usia balita, gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.

Gejala lain sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya. Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas. [ed]

  • Disarikan oleh Eddy Pasaribu dari berbagai sumber

Mendeteksi Dini Balita Buta Warna

Jangan dianggap sepele!. Bahwa buta warna sesuatu yang sangat penting untuk dideteksi sedini mungkin. Untuk itu Anda harus pula mengetahui apakah balita Anda mengidap buta warna. Pertanyaannya, bagaimana Anda mengetahui bahwa anak Anda mengidap buta warna, dan apa ciri-cirinya?.

Kesehatan bayi merupakan hal yang terpenting bagi perkembangannya kelak. Pada umumnya jika kesehatan bayi berjalan normal, maka pada usia 4 tahun anak bayi sudah dapat membedakan beragam warna dengan bahasa verbal, setidaknya warna-warna primer (merah, hijau, biru dan kuning). Dengan demikian jika bayi mengalami buta warna maka orang tua sudah dapat mendeteksinya sejak saat itu. Hanya perlu dipahami bahwa buta warna memiliki 2 jenis; yaitu buta warna total dan buta warna pasial.

Bagi Anda para ibu yang ingin mengetahui ciri-ciri bayi buta warna, beberapa metode sederhana berikut dapat membantu:
  • Bayi pada usia 4 tahun tidak dapat menyebutkan warna yang dilihatnya. Untuk itu buatlah gambar untuk mewarnai sebuah objek. Misalnya, buatkan gambar daun lalu minta kepada anak agar mewarnainya dengan crayon warna hijau. Jika anak dapat mengambil crayon dengan warna tersebut maka dapat dipastikan bahwa anak Anda tidak mengalami buta warna hijau. Tetapi bila si anak selalu mengambil warna merah untuk mewarnai daun yang semestinya berwarna hijau, maka bisa jadi buah hati Anda mengalami buta warna; karena melihat semua objek berwarna hijau menjadi merah.
  • Buatlah lingkaran-lingkaran bersambung dengan warna-warna lembut, misal merah muda, kuning muda, hijau muda dan putih. Jika anak Anda menyebut semua warna-warna tadi dengan putih maka kemungkinan besar ia buta warna.
  • Gantilah lingkaran tadi dengan warna-warna cerah (terang) dan berselang-seling dengan warna lembut, misalnya hitam, kuning, merah, merah muda, biru, dan hijau muda. Minta kepada anak Anda menyebutkan warna-warna yang terdapat di dalam lingkaran itu. Jika anak hanya dapat menyebutkan semua warna dengan hitam dan putih saja maka ia mengalami buta warna, yang hanya dapat melihat semua objek dengan warna hitam dan putih. Dalam kondisi ini anak mengalami buta warna total.
  • Belum cukup sampai disitu!. Sekarang pada selembar kertas putih buatlah titik-titik bersambung yang membentuk satu pola bergambar dengan warna lembut. Kemudian mintalah kepada anak untuk meneruskan gambar dengan menghubungkan titik-titik tadi menggunakan pensil, jika anak Anda tidak dapat melihat pola gambar tersebut, maka kemungkinan anak Anda mengalami buta warna.
 

Mendeteksi secara dini anak balita Anda yang mengalami buta warna adalah sesuatu yang sangat penting sebelum ia menemukan kekurangan di usia sekolahnya. Pada anak usia sekolah, keadaan buta warna dapat menyebabkan frustrasi karena selalu salah dalam menjawab pertanyaan tentang warna-warna, dan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan warna, seperti melukis, membuat pola, dan memasak. 

Anda tidak perlu gusar!. Berbagai pelatihan untuk mengatasi masalah ini sudah ditemukan oleh para ahli. Salah satunya adalah dengan menambahkan label atau tulisan judul warna pada warna-warna tertentu yang tidak terlihat oleh anak. ~Dari berbagai sumber.   

Mengapa Seseorang Mengidap Buta Warna ?

Buta warna merupakan suatu kondisi kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu. Sehingga orang yang mengidap buta warna tidak dapat membedakan perpaduan aneka warna.

Buta warna dibagi menjadi total dan parsial, dimana pada buta warna total seseorang hanya melihat semua warna menjadi hitam dan putih saja. Sedangkan pada buta warna parsial, seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan warna-warna senada.

Secara fisik seseorang dengan buta warna terlihat sama saja dengan orang normal. Artinya, tidak terdapat kelainan fisik yang menonjol. Karena pada buta warna, kelainan terdapat pada sel retina bola mata dan hal itu tidak dapat dilihat secara kasat mata.

Selain hal diatas, penderita buta warna tidak merasakan sakit atau apapun, yang dirasakan adalah ketika melihat suatu objek dengan perpaduan warna maka penderita akan melihatnya dengan warna yang berbeda dari orang normal.

Buta warna umumnya disebabkan karena keturunan (genetikal). Penyebab lainnya adalah adanya kerusakan pada syaraf mata yang disebabkan karena berbagai sebab, seperti kecelakaan atau bawaan lahir. Buta warna yang disebabkan karena faktor keturunan (genetik) dari orangtua kepada anaknya sering disebut dengan sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna.


Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada pria dan wanita. Seorang wanita terdapat istilah 'pembawa sifat' dan hal ini menunjukkan bahwa pada wanita terdapat kromosom X sebagai pembawa sifat buta warna. Wanita sebagai pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anak lelakinya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tersebut akan menderita buta warna.

Syaraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap warna hitam dan putih,serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, teruma sel kerucut.

Untuk mengetahui seseorang mengidap buta warna , maka dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran-lingkaran berwarna  yang beberapa diantaranya dirancang agar terdapat tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak terlihat oleh penderita buta warna.

Umumnya buta warna diketahui ketika anak sudah mulai dewasa. Pada awalnya akan terjadi kebingungan pada dirinya dan orang orang sekitarnya, bahwa warna yang dilihat oleh orang lain berbeda dengan yang dilihat oleh penderita, misalnya seseorang melihat suatu warna sebagai warna merah, namun penderita melihatnya sebagai warna hijau. Hal ini yang menyebabkan penderita merasa kecewa dan sedih, karena hal-hal tertentu pada warna tidak dapat dilihatnya secara normal. Akibatnya, penderita buta warna tidak dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan warna-warna, seperti dokter, ahli kimia, mekanik listrik, dan lain-lain.

Walaupun saat ini belum ditemukan solusi cara pengobatan yang mutakhir untuk penderita buta warna, ada beberapa alternatif untuk memudahkan pengidapnya antara lain:
  • Gunakan warna-warna kontras
  • Menggunakan kode-kode tertentu untuk menandai daerah-daerah tertentu
  • Memberi warna yang bisa terlihat hampir mendekati normal untuk barang-barang tertentu agar dapat membedakannya, seperti biru, kuning, putih dan hitam.
  • Untuk buta warna akut, maka penempatan benda yang diberi warna-warna tertentu juga dapat dilengkapi catatan menggunakan label sebagai indikator yang menjelaskan tentang nama warna tersebut.
Bagaimana Mencegah Buta Warna ?

Kondisi ini sulit dicegah karena bersifat keturunan. Otomatis jika ingin mencegahnya harus dari pertama ketika seseorang akan menikah, maka harus dilihat dan diperiksa apakah pada garis keturunannya terdapat faktor genetik buta warna.

Sangat direkomendasikan agar dilakukan tes sebelum anak memilih jurusan perkuliahannya, sehingga jika ditemukan faktor buta warna, anak tersebut dapat diarahkan untuk mengambil jurusan yang tidak membutuhkan kegiatan yang berhubungan dengan perbedaan warna-warna.

Cegah Dini Penyakit Thalassemia

Thalassemia merupakan penyakit keturunan dimana sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari), sehingga penderita akan mengalami anemia (kekurangan darah).

Penyebab Thalassemia adalah sel-sel darah tidak mengandung cukup hemoglobin karena adanya kelainan atau perubahan pada salah satu bagian gen hemoglobin. Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta, yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin, disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan.

Untuk menderita penyakit ini, seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya. Jika hanya 1 gen yang diturunkan, maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini.

Berdasarkan gejala klinis dan tingkat keparahannya, thalassemia dibagi menjadi 3 kategori:
  1. Thalassemia Mayor
    Disebut juga sebagai thalassemia berat, dimana penderita thalassemia tampak normal saat lahir tetapi akan menderita anemia pada usia antara 3 - 18 bulan. Dalam kondisi ini maka penderita memerlukan transfusi dara secara berkala seumur hidupnya. Apabila anak-anak dengan thalassemia mayor tidak dirawat, maka hidup penderita umumnya akan bertahan antara 1 - 8 tahun.
  2. Thalassemia Minor / Trait
    Thalassemia pada type ini adalah orang yang menderita thalassemia tetapi mereka tidak sakit. Umumnya mereka adalah orang-orang sehat dan normal, tetapi membawa sifat thalassemia. Dari hasil analisa genetika sebenarnya thalassemia trait sudah ada sejak lahir dan tetap ada sepanjang hidup penderita. Namun tidak memerlukan transfusi darah sepanjang hidup mereka.
  3. Thalassemia Intermedia
    Thalassemia intermedia merupakan kondisi antara thalassemia mayor dan minor. Penderita thalassemia type ini mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala dan umumnya dapat bertahan hidup sampai dewasa.
Bagaimana Gejala Thalassemia ?
  • Anemia
    Pengaruh rusaknya sel darah merah, maka penderita akan terlihat pucat, sukar tidur, tidak nafsu makan, dan sering mengalami infeksi berulang.
  • Jantung Berdebar-debar
    Jantung bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin dan semakin lama jantung akan menjadi lemah dan mudah berdebar-debar.
  • Tulang tipis dan rapuh
    Sel darah diproduksi dalam sumsum tulang. Pada keadaan thalassemia sumsum tulang bekerja keras mengatasi kekurangan hemoglobin. Hal ini sering menyebabkan batang hidung penderita masuk ke dalam dengan tulang pipi yang menonjol, dimana keadaan ini disebut facies cooley (ciri khas thalassemia mayor).

Sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan penyakit thalssemia secara total. Pengobatan yang paling optimal adalah transfusi darah seumur hidup dan mempertahankan kadar Hb selalu sama atau 12 g/dl dan mengatasi akibat samping transfusi darah.

Sebaiknya semua orang dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan membawa sifat thalassemia. Karena frekuensi pembawa sifat thalassemia di Indonesia berkisar antara 6 – 10%, artinya setiap 100 orang ada 6 sampai 10 orang pembawa sifat thalassemia. Tetapi bila ada riwayat seperti di bawah ini, pemeriksaan pembawa sifat thalassemia sangat dianjurkan:
  1. Ada saudara sedarah menderita thalassemia.
  2. Kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl, walaupun sudah minum obat penambah darah seperti zat besi.
  3. Ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal walaupun keadaan Hb normal. 
Karena penampilan sebagian besar pembawa sifat thalassemia tidak dapat dibedakan dengan individu normal, maka pembawa sifat thalassemia hanya dapat ditentukan dengan pemeriksaan darah yang mencakup darah tepi lengkap dan analisis hemoglobin. Silahkan periksakan diri Anda...
 

    Deteksi Dini Hipotiroid Pada Kehamilan

    Gangguan tiroid atau orang lebih banyak mengenalnya dengan kelenjar gondok, ternyata 4 sampai 5 kali lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Sebagian besar terjadi pada saat wanita sedang mengandung (hamil) karena adanya perubahan hormonal dan metabolisme.

    Fungsi tiroid yang baik sangat penting untuk ibu dan janin yang dikandungnya. Khususnya selama 3 bulan pertama kehamilan, pada saat hanya ibu yang menjadi sumber hormon tiroid bagi sang janin. Gangguan tiroid pada ibu hamil yang paling sering terjadi adalah kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme).

    Hipotiroidisme umumnya ditandai dengan nilai TSH*) tinggi yang ditemukan pada sekitar 2,5% kehamilan normal. Sementara 4% sampai 9% wanita usia subur (usia antara 18 - 45 tahun) diketahui memiliki TSH yang meningkat. Kadar TSH yang tinggi mempengaruhi fungsi tiroid secara signifikan, khususnya terjadi selama kehamilan.

    Individu yang berisiko tinggi untuk mengalami hipotiroidisme selama kehamilan adalah individu yang memiliki:
    • Kecenderungan hipotiroidisme sebelum kehamilan
    • Riwayat penyakit tiroid autoimun dalam keluarga dan diri sendiri
    • Diabetes melitus tipe 1
    • Kelainan autoimun lain, seperti artritis rheumatoid, sindrom sjogren
    • Penurunan cadangan tiroid (kemungkinan disebabkan riwayat iradiasi leher dan tiroidektomi sebagian)
    Penyakit tiroid dan kehamilan memiliki gejala yang sama, sehingga sulit untuk mengetahui gejala yang muncul terlebih dahulu. Hal ini penting untuk dibedakan karena perubahan fungsi tiroid ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi yang parah pada ibu dan anak, sehingga diperlukan evaluasi laboratorium untuk mengetahui status tiroid ibu hamil.

    Pemeriksaan Anti TPO *)

    Salah satu tindakan agar gejalan tiroid dapat diketahui lebih dini, maka dapat dilakukan pemeriksaan anti TPO. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk:
    • Membantu menegakkan diagnosis penyakit tiroid autoimun
    • Menentukan adanya faktor risiko:
      • Penyakit tiroid autoimun
      • Hipotiroidisme selama terapi interferon alfa, interleukin 2 atau Litium
      • Disfungsi tiroid selama terapi amiodarone
      • Hipotiroidisme pada pasien sindrom down
      • Disfungsi tiroid selama kehamilan dan tiroiditis setelah persalinan
      • Keguguran dan kegagalan pembuahan di luar kandungan
    Kapan sebaiknya dilakukan pemeriksaan Anti TPO ?

    Sebaiknya pemeriksaan Anti TPO untuk wanita hamil dilakukan pada minggu ke 12 sampai ke 20 kehamilan, sedangkan pada penderita disfungsi tiroid autoimun lain, maka waktu pemeriksaan dilakukan tergantung saran dari dokter kandungan.

    Diagnosis dini hipotiroidisme dan pengobatan yang efektif penting dilakukan, khususnya selama masa kehamilan karena komplikasi yang timbul dapat menyebabkan kehilangan janin, hipertensi saat kehamilan, kelahiran prematur, dan dapat juga menyebabkan kelainan perkembangan otak pada bayi.

    *) TSH = Tyroid Stimulating Hormone
    *) TPO = Tyroid Peroxidase Antibodies

    Mengenal Robin Lim, Wanita Amerika 20 Tahun Jadi Bidan di Bali


    Suasana Klinik Bersalin Bumi Sehat saat itu penuh suka cita. Banyak tamu berdatangan untuk memberikan ucapan selamat. Usaha mempeluas klinik merupakan cita-cita lama sejak Robin membangun klinik itu delapan tahun lalu. Di tempat itu, seorang ibu yang melahirkan bisa mendapatkan pelayanan secara gratis. Tapi kalau kondisinya tidak memungkinkan dilayani, klinik menyediakan ambulans untuk membawa sang ibu ke rumah sakit.

    Harapan sang bidan untuk mengembangkan klinik bersalin miliknya agaknya akan segera tercapai. Ia dinyatakan sebagai pemenang "2011 CNN Hero of the Year" dan mendapat hadiah sebesar US$ 250 ribu ditambah US$ 50 ribu sebagai salah satu dari 10 finalis. "Saya akan hadiahkan semua ini bagi kesehatan ibu dan anak di Bali" ujar sang bidan dengan wajah cerianya.

    Dialah sang bidan, Robin Lim!. Robin Lim adalah bidan profesional yang telah tergabung dalam North American Registry of Midwives dan Asosiasi Perbidanan Indonesia (Indonesian Midwifery Association). Robin Lim adalah perempuan kelahiran Arizona, USA, 24 November 1956. Sejak 20 tahun lalu, dia tinggal di Bali dan mengabdikan waktunya untuk melayani ibu melahirkan dan memberikan pendididikan kesehatan bagi lingkungannya di Nyuh Kuning, Ubud. Dia juga menjabat sebagai Executive Director dari Yayasan Bumi Sehat dan HealthDirector dari Tsunami Relief Clinic di Aceh. Yayasan yang dididirikan oleh Robin itu kini sudah membangun sebuah klinik yang kecil, berkualitas, dan `friendly' serta pusat kesehatan untuk para ibu, anak-anak, dan pusat persalinan.

    Tak hanya Aceh, setelah bencana gempa bumi menimpa wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, Robin langsung bergerak menuju Yogyakarta. Di sana ia mendirikan emergency unit yang berfungsi sebagai tempat pelayanan medis. Di tempat itu pula, ia memberikan pembelajaran kepada masyarakat Yogyakarta mengenai bagaimana cara untuk tetap hidup secara sehat dalam kondisi pasca bencana gempa bumi terjadi.

    From the bottom of our hearts, thank you to all our supporters for voting for Ibu Robin. It is because of YOU that Robin received this award. You are the foundation that we are built on. Thank you for enabling us to continue our work bringing healthy babies into the world safely and gently.

    Robin sering di sebut sebagai "barefoot midwife" melalui upayanya dalam mempromosikan proses kehamilan yang sehat, persalinan yang alamiah dan nyaman, serta memberantasan kemiskinan dan kekurangan gizi atau gizi yang buruk. Ia memiliki beragam pengetahuan persalinan—yang merupakan percampuran dari beragam kebudayan dan tradisi, diantaranya: Amerika, Indonesia, Cina, Filipina, Jerman, serta Irlandia. Pengalaman Robin melahirkan anak keempatnya dengan waterbirth di Hawai merupakan salah motivasinya untuk mempelajari dan mengembangkan metode ini.

    Di Yayasan Bumi Sehat, Ubud, dia telah membantu sekitar 400 persalinan sekaligus memandu ASI ekslusif. Sekitar 30% dari persalinan tersebut dilakukan di dalam air. “Di samping bisa mengurangi rasa sakit sekitar seperempat kali, melahirkan di air juga bisa mengurangi risiko sobeknya vagina. Selain itu, dengan lahir di air, bayi tidak terlalu kaget karena masih dalam habitatnya (berada dalam cairan),” kata wanita kelahiran Arizona yang saat ini lebih sering dipanggil bunda oleh wanita sekitarnya.

    Hingga saat ini Robin terus bergiat mencanangkan serta mempromosikan pengetahuan serta penyembuhan pengobatan menggunakan beragam tanaman tradisional. Ia juga selalu mensosialisikan pentingnya bagi para ibu yang baru melakukan proses persalinan untuk memberikan perhatian yang cukup kepada diri mereka sendiri serta anak mereka, sehingga membantu mereka dalam menghadapi masa-masa yang sensitif di mana berhubungan dengan kekuatan emosi mereka. "Kami percaya bahwa proses persalinan yang sehat dan penuh dengan perhatian adalah landasan dari sebuah kehidupanyang indah. Perdamaian di dunia dapat di mulai hari ini, melalui satu-persatu bayi yang lahir ke dunia".


    Selain membantu persalinan, ternyata wanita yang mengaku sudah jatuh cinta pada pulau Dewata ini juga memiliki bakat lain. Dia telah mengarang banyak artikel, cerita, dan puisi—yang sebagian besar dipubliksikan dalam majalah Midwifery Todaydan newsletter The Birthkit. Bukunya After the Baby's Birth, A Woman's Way to Wellness dan Eating for Two, Recipes for Pregnant and Breastfeeding Women juga telah diterbitkan oleh Celestial Arts. Atas dedikasi dan kontribusinya kepada tersebut Komite Yayasan Alexander Langer (Bolzano, Italia) menganugerahi penghargaan Internasional Alexander Langer di tahun 2006 kepada Robin sebagai pendiri dan penasehat sebuah organisasi non-profit, Yayasan Ibu Bumi Sehat, yang berada di Bali, Indonesia.

    Pada tahun 2005 Robin juga pernah meraih Penghargaan Women Peace Award dari Women Peacepower Foundation dan Komite Yayasan Alexander Langer (Bolzano, Italia), dan Woman of the Month Award dari United Nations Entity for Gender Equality & the Empowerment of Women (UNIFEM) pada 2008.

    Sumber: Tempo & Kick Andy
     
    Copyright © 2015. DIENG TOUR ADN TRAVEL.
    Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Distributed By Kaizen TemplatePowered by Blogger.
    Creative Commons License