Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Surat Terbuka Untuk Anakku

Anakku... 

Saat aku tua nanti, aku berharap kamu mengerti dan bersabar menghadapiku. Saat tanpa sengaja memecahkan piring atau menumpahkan sup karena mataku yang sudah rabun, aku harap kamu tidak menghardikku, karena orang tua cenderung sensitif. Aku seperti mengasihani diriku sendiri saat engkau berteriak karena pendengaranku yang mulai buruk dan tidak mendengar apa yang kau katakan. Aku harap engkau mau mengulanginya atau menuliskannya, anakku.

Aku semakin tua dan lututku semakin lemah. Aku harap kau bersabar untuk membimbingku, sama seperti saat kau kecil ketika engkau belajar berjalan. Pahamilah aku yang selalu merasa seperti benda yang rusak. Aku berharap cobalah untuk mendengarkanku. Janganlah mengolok-olokku dan merasa muak mendengarkanku. Kamu ingat saat kamu kecil dan menginginkan balon? kamu terus merengek sampai kamu mendapatkannya. 

Juga pahamilah bau tubuhku sebagai orang yang sudah tua. Jangan paksa aku untuk segera membersihkan diri. Badanku lemah. Orang tua rentan sakit saat mereka kedinginan. Aku berharap engkau tidak merasa jijik. Apakah kamu ingat waktu kamu kecil? aku harus mengejar-ngejarmu karena kamu tidak mau mandi. Aku harap engkau juga bersabar seandainya aku menyusahkan karena ke-uzuranku. Kaupun akan merasakannya saat kau tua nanti.

Seandainya kau punya waktu, aku berharap engkau menyempatkan waktumu untuk berbincang-bincang walau hanya beberapa menit denganku, karena tidak ada lagi yang mengajakku berbicara. Aku sadar engkau orang yag sibuk dengan pekerjaanmu. Walaupun engkau tidak tertarik dengan ceritaku, aku mohon sempatkanlah waktumu untukku. Apakah kau masih ingat saat kau kecil? aku selalu siap mendengarkan ceritamu tentang boneka teddy bear-mu, atau tentang nakalnya teman-temanmu di kelas sekolahmu. 

Bila tiba masanya aku mulai sakit-sakitan dan harus berbaring di tempat tidur, aku berharap engkau bersabar untuk merawatku. Maafkan bila aku tanpa sadar membasahi tempat tidur atau membuatnya berantakan. Sabarlah kau menghadapiku di sisa-sisa hidupku. 

Saat tiba datang kematianku, aku berharap engkau genggam tanganku dan memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapi kematianku. Jangan khawatir, saat aku bertemu dengan penciptaku, aku akan bisikkan ditelingaNya bahwa engkau sangat mencintai dan peduli dengan ayah dan ibumu. 

Dengan segenap cinta: Ayah dan Ibumu.

Sumber: Unknown

Kesempatan Kedua Dalam Cinta

Perlu kesabaran untuk sebuah cinta. Kebiasaan yang dilakukan pasangan saat mendapatkan kita, kadangkala selalu hanya menjadi kenangan dalam pikiran kita. Hal-hal yang kita dapatkan dulu (saat berpacaran) akan menjadi sesuatu yang biasa. Bukan karena saat ini kita tidak mendapatkannya lagi, tapi karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang tidak istimewa dibanding rutinitas kebersamaan saat ini. Kisah dibawah ini adalah sebuah inspirasi tentang perlunya "kesabaran cinta". Jangan anda berhenti membaca...

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan Anna Julian dan Ralph Smith. Dulu mereka pasangan yang sangat perfect dan dipuja-puja teman-temannya. Ann sedang menunggu suaminya Ralph pulang bekerja.

Dalam kesendirian, Ann merasa keadaan sudah banyak berubah sejak pernikahan mereka. Pasangan serasi yang dahulu tidak bisa hidup tanpa satu sama lain telah berubah menjadi terasa pahit.

Ann sering mengeluh karena kesibukan suaminya di kantor. Ralph selalu berargumentasi bahwa kesibukannya adalah demi mereka dalam membangun keluarga. Apalagi anak-anak mereka nanti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pendidikannya.

Tapi Ann seakan tidak mau perduli dengan alasan itu. Sebagai wanita dia ingin tetap menjadi perhatian dan urusan utama Ralph seperti saat mereka berpacaran dulu. Kenapa mesti berubah?, itu selalu serangannya kepada Ralph.

Sekarang ini sering terjadi perselisihan atas hal-hal kecil diantara mereka yang bisa menyulut pertengkaran ego. Bahkan dalam pertengkaran pun keduanya juga tidak suka perubahan ini terjadi. Tapi, menurut Ralph ini adalah risiko hidup. Prekkk!! Kata Ann...

Hari ini pun Ann sedang melakukan test yang kesekian kali terhadap suaminya. Menunggu apakah Ralph ingat ulang tahun pernikahan mereka...

Tibalah waktunya, bel pintu berbunyi. Ann berlari dan menemukan suaminya basah kehujanan tetapi tersenyum dengan seikat bunga ditangannya. Ann surprised!!!!.

Sejenak suami istri ini berpelukan. Keduanya kembali mengingat masa-masa lalu mereka. Selanjutnya mereka menyiapkan sampanye, musik ringan. Di luar hujan menambah suasana mereka semakin romantis, SEMPURNA !!.

Tapi keadaan tiba-tiba berubah, ketika telpon di kamar mereka berbunyi. Ann bangkit dari duduknya dan segera berlari ke kamar untuk mengangkatnya, "sebentar ya sayang, I will riteback!" Katanya pada Ralph.

Ann mengangkat telpon dan di ujung sana ada seorang pria berkata, "Hallo Bu, saya dari kepolisian, apakah betul ini nomor telepon Mr. Ralph Smith?"
"Ya benar!" Jawab Ann.
"Maaf, Bu! Ada kecelakaan dan seorang pria meninggal. Kami mendapatkan nomor telepon ini dari dompetnya dan kami butuh Anda datang untuk mengidentifikas­i mayatnya" . Hati Ann seperti copot. Dia sangat terkejut!. "Tapi suami saya ada disini bersama saya".
"Maaf Bu, tapi kejadian ini terjadi jam 2 siang, ketika dia naik kereta".

Ann membanting telepon dan hampir hilang kesadarannya mendengar berita ini. Mengapa ini bisa terjadi?. Dia pernah mendengar ada roh orang mati yang datang untuk bertemu orang yang dicintainya sebelum dia pergi untuk selamanya. Ann kemudian berlari ke ruang tamu. Betul! Ralph tidak ada disitu. Ia telah pergi untuk selamanya!!.

Oh Tuhan, Ann sangat ingin mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki setiap perselisihannya dengan Ralph. Sebenarnya dia adalah suami yang sempurna. Histeris Aan menangis bergulingan di lantai. Kesedihannya mengguncang keangkuhannya. Dia sangat sedih karena kehilangan kesempatan bermohon ampun kepada Ralph untuk selamanya!!.

Tiba-tiba ada suara dari kamar mandi. Pintu terbuka. Ralph keluar dan berkata "Sayang, aku lupa kasih tahu kamu kalau dompetku tadi dicopet orang". Ann terkejut, dan berlari dalam tangis memeluk Ralph yang kebingungan. "Ada apa ini?" kata Ralph. Apa poin dari kisah ini? Silahkan komen anda.. [ed]

Berapa lama kita dikubur ?


KULIAH JUMAT

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan.

Read more »

Bagaimana Seorang Ibu Diciptakan ?


Begitu lamanya Tuhan menciptakan seorang ibu, sampai suatu saat Malaikat pun bertanya "Tuhan, banyak sekali waktu yang Tuhan habiskan untuk menciptakan seorang ibu ini?"

Dan Tuhan menjawab dengan lemah lembut: "Tidakkah kau lihat perician yang harus dikerjakan?"

Lalu, Tuhan pun menunjukkan perincian pekerjaannya:

1. Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik
2. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas, tapi tidak cepat capai
3. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya
4. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan
5. Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan kaki keseleo dan rasa lapar
6. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
7. Enam pasang tangan

Read more »

Apa itu Cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?


Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya (Socrates), "Apa itu Cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah, tetapi jangan mundur kembali, kemudian ambillah satu buah ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."

Read more »

Meja Kayu Sang Kakek


Cerita tentang seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh dibuatnya. Saat meraih gelas, segera saja dia membuat susu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil dari kayu di sudut ruangan. Disanalah nanti, sang kakek akan duduk dan makan sendirian saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Read more »

Kepercayaan itu adalah Sebuah Kebahagiaan


Sebuah kapal barang berlayar di Samudra Atlantik. Di buritan kapal ada seorang anak negro kecil, dia adalah seorang pekerja suruhan. Anak ini tidak hati – hati sehingga tercebur ke dalam Lautan Atlantik yang bergulung – gulung ombaknya. Anak ini berteriak minta tolong, apa daya ombaknya sangat besar dan angin sangat kencang, orang yang berada di atas kapal tidak ada yang mendengarnya. Dengan mata terbelalak dia melihat kapal barang tersebut membawa ombak bergerak makin lama makin menjauh.
Read more »

Kisah Cinta Mengharukan Sepasang Burung Barn Swallow (Hirundo Rustica)



Burung betina ini terluka dengan kondisi yang parah
Read more »

Kisah Alergi Hidup


Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".

Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit..".

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.

Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.

"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : "Sayang..., apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang".

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu". Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian.

Itulah sebabnya, ia selalu bahagia..., selalu tenang..., selalu Hidup....

Hanya Cinta yang Bisa Melihat dan Menuntun Kami


Pada suatu hari ada seorang ibu yang baru pulang dari pasar, dia melihat ada 3 orang berjanggut di halaman rumahnya,? ketiga pria itu terlihat letih dan lapar, ibu itu mengajak mereka masuk untuk makan, tapi mereka bertanya,? "apakah suamimu sudah pulang?", "belum" jawab ibu itu, "kalau begitu kami tidak bisa masuk".

Ketika suaminya pulang diceritakannya tentang ketiga orang itu, suaminya menyuruhnya mengajak ketiga orang itu untuk masuk, ketika ia menyuruh mereka masuk seorang berjanggut itu berkata, "yang itu bernama kekayaan, yang itu kesuksesan dan saya cinta, kalian harus memilih salah satu dari kami untuk masuk ke dalam rumahmu, kami tidak bisa masuk bersama sama"

Ibu itu masuk ke dalam dan menceritakan apa yang dikatakan orang itu, suaminya berkata, "suruh kekayaan masuk, saya ingin rumah ini penuh dengan kekayaan"

Tapi ibu itu berkata, "lebih baik kesuksesan, biar semua pekerjaan kita selalu penuh dengan kesuksesan,"

Anak2 mereka berkata, "lebih baik cinta, biar rumah ini selalu penuh dengan cinta,"

Akhirnya semua setuju untuk mengajak cinta masuk, ibu itu kembali ke depan dan berkata, "yang bernama cinta silakan masuk,"

Ketika orang yang bernama cinta berjalan masuk kedua orang yang lain mengikutinya, si ibu heran dan berkata, "kami hanya mengundang cinta, kenapa kalian ikut?"

Orang itu berkata, "kalau ibu memilih kekayaan atau kesuksesan, kami hanya bisa berjalan sendiri2, tapi karena ibu memilih CINTA, kami berdua akan selalu mengikutinya kemanapun dia berjalan, sebenarnya kami berdua ini buta, hanya cinta yang bisa melihat dan menuntun kami kemanapun dan kapanpun juga .....

"Tukang Asuransi" itu datang lagi..


Pernahkah anda berpikir tentang asuransi jiwa?. A-ha..ini adalah pertanyaan yang selalu membuat kita cuek-cuek bebek. Kalaupun ditelpon atau didatangi salesman-nya, seribu alasan akan kita lontarkan dengan sekuat akal dan pikiran untuk tidak menerima mereka di kantor kita, di rumah, di jalan, atau dimana saja agar kita tidak membeli satupun polisnya. Bahkan pada saat penjual asuransi ingin membuat janji bertemu untuk menjelaskan programnya melalui telpon, tak jarang kita mengajarkan cara berbohong kepada para sekretaris kita sekedar mengatakan “maaf, bapak/ibu sedang ke luar kantor”, padahal kita sedang berada disebelah sang sekretaris saat dia mengatakan itu.

Bagi kebanyakan orang, asuransi jiwa adalah “proyek” menghambur-hamburkan uang dan hanya menguntungkan perusahaan asuransi saja. Salahkah berpikir seperti itu ?

Saya bukan mau menjual asuransi jiwa kepada anda. Dan saya pun bukan ingin “membesarkan kepala” penjual asuransi jika akhirnya mata saya terbuka gara-gara didatangi penjual asuransi dengan gaya tololnya.

Berikut ini kisahnya…

Suatu hari (karena capek menghindar) akhirnya saya mengijinkan salesman asuransi menemui saya di kantor. Saya ijinkan sekretaris saya menemukan saya dengan penjual itu. Umurnya sekitar 25. Kami bersalaman. Saya persilahkan dia duduk, dan saya menghadapinya dengan ogah-ogahan sambil bersilang kaki di sofa ruangan kantor saya.

Dengan angkuh saya menyapa penjual itu sekenanya, “Hmm..ada apa?, apa yg bisa saya bantu?”, saya membuka pembicaraan. Dia hanya tersenyum. Gayanya yg tolol membuat keangkuhan saya semakin menjadi. Saya pikir, ini adalah penjual baru; new comer !.

“Saya sedang tidak meminta bantuan, Pak!” katanya sambil tersenyum. Sombong sekali pikir saya. Mana mungkin dia kesini kalau bukan minta bantuan saya membeli polisnya. Saya tatap dia pura-pura serius mananggapi kata-katanya.

“Saya kesini sekedar bersilaturahim pak” katanya. Saya lagi-lagi pura-pura bego. Kemudian dia lanjutkan “saya ingin berkenalan dengan bapak, dan saya merasa senang mengenal seorang pemimpin yang berhasil seperti bapak. Kalaulah ada seribu orang seperti bapak dan mengijinkan saya menemuinya hari ini, maka akan saya temui mereka. Betapa senangnya orangtua saya karena saya berteman dengan orang-orang sukses.”

Hah? Saya terperangah dengan kata-katanya. Terus terang sedikit mencuri perhatian akal sehat saya. Tapi, ah, saya harus bisa menyembunyikan rasa kagum saya kepadanya. Kemudian saya berkata, “lantas, apa mau kamu sebenarnya?”. Hmm..kata-kata terangkuh dalam sejarah profesionalisme saya.

Dasar bego. Dia tersenyum lagi, dan sambil membetulkan duduknya dia berkata, “berapa usia anak bapak yang terkecil?.” Hmm..mulai mengorek data, pikir saya. “sekitar 3 tahun, perempuan” jawab saya sekenanya, kemudian saya lanjutkan, “anak saya ada 2, yang besar usia 5 tahun, laki-laki.” Saya duluan memberitahu sebelum dia bertanya-tanya lagi. Dia memandang saya dengan khidmat.

“Pastilah istri dan anak-anak bahagia sekali memiliki suami dan ayah seperti bapak” katanya masih sambil tersenyum. “Dan saya yakin, setiap pagi mereka mengantarkan bapak sampai di halaman rumah saat hendak berangkat ke kantor. Mereka baru akan masuk ke rumah kembali setelah bapak tidak terlihat lagi oleh mereka. Bukan begitu, pak?.” Lanjutnya bertanya kepada saya. Saya terkenang sejenak dengan anak dan istri di rumah.

“Apa maksud kamu?” saya jadi serius menatapnya. Dia pun agaknya menampilkan wajah keseriusannya. Sangat kelihatan ketulusannya, tetapi dengan senyumnya yang tak lepas.

“Saya yakin pak, saat anak dan istri bapak mengantarkan bapak sampai ke halaman rumah saat bapak hendak berangkat ke kantor, satu-satu mereka menciumi bapak.” Saya terkesiap. Ya betul sekali anak muda, kata saya dalam hati.

Dia melanjutkan kata-katanya, “apakah bapak menyadari, bahwa mereka (anak dan istri) juga selalu gusar dengan kepergian bapak. Itu yang menyebabkan mereka juga selalu berdoa agar bapak dilindungi oleh Tuhan dan sangat mengharapkan kembali ke rumah dengan selamat.sepulang bekerja” Hah?, saya mulai tertarik.

“Ya, memang seharusnya begitu. Karena mereka sangat mencintai saya” kata saya

“Saya mengerti pak, mereka masih sangat mengharapkan bapak. Mengharapkan cinta kasih bapak, termasuk hal-hal yang bersifat finansial dari bapak” lanjutnya dengan tenang. “Betul anak muda!” kata saya semakin serius menatapnya.

Sedikit demi sedikit keangkuhan saya mulai mencair.. Anak muda ini ternyata cukup baik sebagai teman diskusi. Kamipun bisa membicarakan apa saja. Hmm..dia pun tak pernah membicarakan masalah asuransi jiwa. Bahkan dia tidak menjual apa-apa, pikir saya. kami kayaknya mulai akrab. Komunikasi kamipun semakin terbuka, sampai akhirnya dia bertanya kepada saya…

“Apakah bapak ingin merayakan ulang tahun anak bapak yang ke 17 tahun?”
“Ya !” jawab saya tegas
“Itu sekitar 12 tahun yang akan datang?”
“Betul !”

“Pak, cobalah kita berandai-andai” lanjutnya lagi. “Maaf pak, seandainya hari ini bapak pulang tidak dengan selamat, patah kaki misalnya akibat kecelakaan, sehingga menjadikan bapak cacat, apakah masih mungkin bapak merayakan hari ulang tahun anak bapak 12 tahun yang akan datang?.” Saya mulai berpikir. Mengerikan sekali.

Saya jawab “yaaa…saya merayakan hari ulang tahun anak saya dalam keadaan cacat!” Pemuda itu menghilangkan senyumnya. Dia hanya memandangi saya. Kemudian dia melanjutkan bicaranya. Saya semakin tertarik.

“Perayaan itu akan berlangsung jika bapak mengalami cacat kecil. Bagaimana jika kedua kaki bapak sudah tidak ada karena diamputasi. Apakah kira-kira bapak masih bekerja dan mampu mengumpulkan uang untuk biaya perayaan itu.” Ya ampun! Saya mulai bergidik. Dan saya yakin tidak mungkin bekerja tanpa kaki. Pemuda itu melembutkan suaranya…

“Pak, apakah sungguh-sungguh bapak ingin merayakan ultah ke 17 anak bapak?”
“Ya!” jawab saya. “Saya akan merayakannya dalam keadaan sehat, dalam keadaan cacat!” lanjut saya dengan serius.
“Jika hari ini bapak pulang dengan tidak selamat akibat meninggal dunia, apakah perayaan itu harus tetap berlangsung?” Oooppsss..saya mulai panik…
“Ya, harus!” jawab saya berapi-api.
“Siapa yang membiayai acara itu jika bapak tidak ada sementara istri bapak tidak bekerja?” serangnya
“Saya tidak tahu!.” Nada suara saya melemah. Saya sangat ketakutan…
“Apakah mungkin ada kerabat, saudara, tetangga atau orang-orang yang pernah bapak bantu menyumbangkan dana untuk membiayainya?” matanya tajam kearah saya.

“Tidak mungkin!” jawab saya
“Atau mungkin boss bapak di kantor?”
“Tidak mungkin…”
“Atau mungkin salah satu saudara kandung bapak?”
“Tidak mungkin..”

Pemuda itu tersenyum memandang saya dalam-dalam yang hampir lunglai. Sejenak saya teringat wajah ayah saya ketika bertanya kepada saya saat meminta ijinnya untuk menikah. Dia bertanya kepada saya, “Apa kamu sudah siap menjadi suami bagi istri dan ayah bagi anak-anakmu kelak?.” Aku menjawabnya dengan kata-kata; siap lahir batin!.

Wajah pemuda ini mengingatkan saya kepada wajah almarhum ayah saya. Dengan lemah lembut kemudian dia berkata “Jangan gusar pak, 12 tahun yang akan datang staf di perusahaan saya akan datang menemui keluarga bapak. Mereka membawa sejumlah uang dan memberikannya untuk kebutuhan perayaan ulang tahun anak bapak, sekaligus biaya hidup mereka sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Uang itu akan diberikan meskipun bapak sudah meninggal dunia atau masih hidup.” Saya terkejut…

Maaf, saya hampir menangis mendengar ucapannya. Pemuda yang saya kira tolol ini ternyata sangat brilian menjual masa depan. Ternyata dia memang bukan menjual asuransi. Sejak awal tak satu kata “asuransi” pun keluar dari mulutnya. Saya memandangnya dengan haru. Lalu dia berkata…

“Apakah Bapak bersedia saya bantu?”
 
Copyright © 2015. DIENG TOUR ADN TRAVEL.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Distributed By Kaizen TemplatePowered by Blogger.
Creative Commons License